Sunday, February 28, 2010

[daarut-tauhiid] UNTUK PARA WALI

Link ke posting ini
Reaksi: 
----- Original Message -----
From: "Mailinglist Al-Sofwah" <ustadz@alsofwah.or.id>

Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh

UNTUK PARA WALI

Dalam bangunan rumah tangga, wali mempunyai peranan strategis dan
kedudukan yang penting, di tangannyalah tali simpul akad pernikahan
yang menjadi gerbang bagi bangunan rumah tangga diikat. Benar,
tanpanya akad nikah tidak akan berlangsung, kalau tetap dipaksakan
untuk berlangsung, maka akad nikah tersebut tidak sah, karena menurut
pendapat yang rajih dalam masalah ini, wali merupakan salah satu
syarat sah pernikahan. Dan sebelum itu wali merupakan pembentuk bagi
salah satu pilar bangunan rumah tangga, yaitu mempelai wanita alias
istri. Dalam naungan wali, seorang gadis ditempa dan dididik untuk
-suatu saat kelak- memasuki gerbang pernikahan yang membawanya ke
dalam bangunan rumah tangga yang membawanya kepada kebahagiaan dan
ketenangan.


Karena wali adalah pemegang tali simpul akad pernikahan di samping
sebagai pendidik bagi mempelai wanita, maka di pundaknya tersemat
tanggung jawab besar yang wajib dia pikul dan tugas yang tidak ringan
yang harus dia emban.

Pertama, membentuk putrinya menjadi wanita shalihah


Hal ini sebagai wujud tanggung jawabnya sebagai pemimpin rumah tangga
dalam menjaga keluarga dari api neraka sebagaimana yang difirmankan
oleh Allah Subhanahu waTa'ala, "Wahai orang-orang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka."(QS.At-Tahrim: 6)


Dan sebagai pengamalan terhadap sabda Rasulullah shallallaahu
'laihiwasallam, "Setiap orang dari kalian adalah pemimpin dan setiap
orang akan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang
laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan dia bertanggung jawab
terhadap yang dipimpinnya." (HR. al-Bukhari dari Ibnu Umar
radiyallaahu 'anhu).


Dengan membentuk putrinya sebagai wanita shalihah, maka dia telah
mempermudah jalan bagi putrinya tersebut untuk menemukan jodoh yang
shalih sebagai modal dasar bagi bangunan rumah tangga yang bahagia,
karena yang baik berjodoh dengan yang baik, yang shalih bertemu dengan
yang shalih.

Kedua, menetapkan standar bagi calon menantu


Benar dan harus, wali mesti mempunyai kriteria standar bagi siapa yang
akan menjadi suami bagi putrinya, hal ini sebagai realisasi dari
tanggung jawabnya sebagai pemimpin, namun jangan mengira bahwa
kriteria standar dalam hal ini adalah ketampanan atau kedudukan atau
harta dari calon suami, sekali pun semua itu menjadi pertimbangan
utama bagi kebanyakan orang di zaman ini. Tidak, bukan semua itu, akan
tetapi kriteria standar di sini adalah kriteria yang ditetapkan oleh
teladan para wali yaitu Rasulullah shallallaahu 'laihiwasallam. Apa
kriteria itu?


Agama dan akhlak, hanya itu. Jika Anda sebagai wali didatangi oleh
seseorang yang berharap menikah dengan putri Anda dan Anda ridha
terhadap agama dan akhlaknya, kedua perkara ini telah memenuhi standar
Anda, maka tidak ada alasan bagi Anda untuk tidak menerimanya.


Petunjuk Rasulullah shallallaahu 'laihiwasallam kepada para wali,
"Jika kalian didatangi oleh orang yang telah kamu terima agama dan
akhlaknya maka nikahkanlah dia.." (HR. at-Tirmidzi).

Ketiga, mempermudah urusan menikah


Dengan tidak membebani calon menantunya melalui tuntutan-tuntutan
materi yang memberatkan. Menikah adalah ibadah, menikah bertujuan
menjaga anak-anak muda agar tidak terjerumus ke dalam dosa, maka sudah
sepatutnya jika para wali mempermudah urusannya dan meringankan
bebannya. Urusan yang sulit dan beban yang berat bisa menjadi
penghalang anak-anak muda untuk menikah dan selanjutnya mereka bisa
terjerat oleh jaring-jaring dosa yang di zaman ini tersebar di setiap
sudut kehidupan, plus bertambahnya gadis-gadis usia menikah yang
tertunda pernikahannya dan ujung-ujungnya bernasib menjadi perawan
tua.


Membebani calon menantu dengan tuntutan-tuntutan materi tidak ubahnya
menjadikan putri sendiri layaknya barang dagangan yang baru akan
dilepas dengan harga yang tinggi. Sebenarnya berapa pun materi yang
dituntut oleh seorang wali dari calon suami putrinya tidak sebanding
dan tidak sepadan. Siapa yang rela melepaskan kehormatannya hanya
dengan materi yang terhitung jumlahnya kalau bukan karena Allah Rabbul
'alamin mensyariatkannya?


Said bin al-Musayyib, sayyid para tabiiin, menorehkan contoh sebagai
wali dalam mempermudah urusan pernikahan, dia menikahkan putrinya
dengan seorang laki-laki tidak berharta hanya dengan mahar beberapa
dirham saja, padahal sebelumnya putrinya ini telah dilamar oleh
khalifah untuk putra mahkotanya, namun Said sebagai wali menolaknya.

Keempat, mencari orang shalih


Jodoh memang di tangan Allah Subhanahu waTa'ala, jika ia datang
sendiri dan sesuai dengan kriteria standar maka itulah yang
diharapkan, namun terkadang kehidupan tidak selalu seperti yang kita
harapkan, dalam kondisi ini bukan merupakan aib atau sesuatu yang
memalukan jika Anda sebagai wali berupaya mencarikan jodoh untuk putri
Anda dengan cara-cara yang ma'ruf tanpa merendahkan diri dan melanggar
tatanan syariat.


Benar, bukan aib dan tidak perlu malu dalam kebenaran dan tujuan
mulia, karena hal semacam ini telah dilakukan oleh seorang laki-laki
yang jauh lebih baik dan lebih bertakwa kepada Allah Subhanahu
waTa'ala daripada Anda, orang ketiga dalam umat ini setelah rasulnya
dan shiddiqnya, orang itu adalah Umar bin al-Khatthab radiyallaahu
'anhu.


Manakala sahabat Khunais bin Hadzafah suami Hafshah binti Umar bin
al-Khatthab wafat, Umar radiyallaahu 'anhu memutuskan untuk mencari
suami yang bisa melindungi dan menjaga putrinya. Pilihan Umar
radiyallaahu 'anhu jatuh pada Abu Bakar Ash-Shiddiq radiyallaahu
'anhu, karena dia mengenalnya sebagai laki-laki yang tenang dan penuh
perhitungan yang membuatnya layak untuk Hafshah Dia menemui Abu Bakar
radiyallaahu 'anhu, menyampaikan kepadanya keadaan putrinya yang
menjanda. Kemudian secara terbuka dia menawarkannya untuk menikahinya,
akan tetapi Abu Bakar tidak menjawab apa pun.


Umar bingung menghadapi sikap Abu Bakar. Dia pergi kepada Usman bin
Affan yang baru saja ditinggal wafat oleh istrinya Ruqayah binti
Rasulullah shallallaahu 'laihiwasallam. Umar radiyallaahu 'anhu
berbicara kepadanya dan menawarkan agar dia menikahi putrinya. Usman
radiyallaahu 'anhu meminta waktu kepada Umar radiyallaahu 'anhu.
Kemudian sesudah itu Usman radiyallaahu 'anhu menjawab, "Aku belum
ingin menikah hari ini." Sikap Abu Bakar dan Usman radiyallaahu
'anhuma menyesakkan dada Umar radiyallaahu 'anhu karena keduanya
adalah teman-teman yang tidak buta terhadap kedudukannya. Maka Umar
pergi kepada Rasulullah shallallaahu 'laihiwasallam mengadukan apa
yang dialaminya.


Nabi shallallaahu 'laihiwasallam tersenyum dan bersabda, "Hafshah akan
dinikahi oleh orang yang lebih baik dari Usman dan Usman akan menikah
dengan orang yang lebih baik dari Hafshah." Rasulullah shallallaahu
'laihiwasallam melamar Hafshah. Umar sangat berbahagia. Abu Bakar
datang memberi ucapan selamat kepada Umar seraya berkata, "Jangan
marah kepadaku, karena Rasulullah shallallaahu 'laihiwasallam telah
menyebut Hafshah dan tidak pantas bagiku membuka rahasia beliau.
Seandainya beliau tidak menikahinya , maka aku yang menikahinya."
(Oleh: Ust. Izzudin Karimi, Lc).

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh
---------------------------------------------------------------------
dari: YAYASAN AL-SOFWA Jakarta


------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

[daarut-tauhiid] Berhias

Link ke posting ini
Reaksi: 
----- Original Message -----
From: "Mailinglist Al-Sofwah" <ustadz@alsofwah.or.id>

Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh

BERHIAS


Berhias disukai dan diminati oleh manusia karena berhias berarti
keindahan dan jiwa manusia cenderung kepada keindahan, kecenderungan
kepada keindahan ini dimiliki oleh laki-laki, di samping ia juga
dimiliki oleh wanita. Suami berharap istrinya tetap menarik,
membahagiakan jika dipandang, istri berharap suaminya berpenampilan
baik sesuai dengan kelaki-lakiannya, hanya saja kecenderungan wanita
lebih kepada menghiasi diri, sementara kecenderungan laki-laki lebih
kepada menikmati perhiasan, dari sini maka tulisan ini lebih fokus
kepada berhias dari sisi wanita atau istri.

Dalam lingkup rumah tangga berhiasnya seorang istri untuk suami
merupakan perkara yang tidak patut disepelekan, hal ini karena tabiat
suami sebagai laki-laki menyukai kecantikan dan keindahan, kalau dia
tidak mendapatkan ini dari istri, lalu dari mana dia mendapatkannya.
Dalam konteks membahagiakan suami dengan cara-cara yang tidak
melanggar batas-batas agama bisa bernilai sebagai sebuah ibadah yang
mulia, karena hal tersebut sebagai wujud kecintaan dan kataatan istri
kepada suami.

Hukum berhias

Pada dasarnya berhias atau perhiasan dibolehkan, tidak dilarang
kecuali apa yang dilarang oleh dalil, ia termasuk salah satu nikmat
Allah kepada hamba-hambaNya, Allah telah mengingkari siapa pun yang
mengharamkan perhiasan yang Dia sediakan untuk hamba-hambaNya.

Firman Allah, "Katakanlah, 'Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari
Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hambaNya dan (siapa pula
yang mengharamkan) rizki yang baik?' Katakanlah, 'Semuanya itu
(disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia,
khusus (untuk mereka saja) di Hari Kiamat." (Al-A'raf: 32).

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, "Aku menyaksikan shalat
Id bersama Nabi saw, beliau shalat sebelum khutbah. lalu Nabi saw
mendatangi para wanita, beliau memerintahkan mereka bersedekah, maka
mereka melemparkan cincin dan kalung dan Bilal menadahinya dengan
kainnya."

Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 10/330 menyebutkan bahwa al-Bukhari
meriwayatkan secara muallaq bahwa Aisyah mempunyai beberapa cincin
emas, Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa riwayat ini diriwayatkan secara
maushul oleh Ibnu Saad.

Demi siapa seorang istri berhias

Ladang ibadah seorang istri adalah suami, dari sini maka hendaknya apa
yang dia lakukan pada dirinya adalah semata-mata demi suami termasuk
berhias dan mempercantik diri, jika niat istri dalam berhias adalah
demi suami maka hal tersebut bernilai ibadah, di samping itu istri
tidak akan memperlihatkan perhiasan dirinya kepada orang lain, karena
dia memang berhias hanya untuk suami semata bukan untuk orang lain.

Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Aisyah berkata, Rasulullah saw datang
kepadaku sementara di tanganku terpasang gelang dari perak, beliau
bertanya kepadaku, "Ini apa wahai Aisyah?" Aku menjawab, "Aku
melakukannya dengan maksud berhias untukmu." Nabi saw bertanya, "Kamu
menzakatinya?" Aku berkata, "Tidak, masya Allah." Nabi saw bersabda,
"Ia adalah bagianmu dari neraka."

Kita melihat dalam hadits ini apa yang dilakukan oleh Aisyah dengan
memakai gelang dari perak dalam rangka berhias demi suaminya yaitu
Rasulullah saw dan beliau tidak mengingkarinya, yang beliau persoalkan
dalam hadits di atas adalah sisi yang tidak berkait dengan pembicaraan
kita yaitu zakat perhiasan.

Yang terjadi saat ini dan pada zaman ini adalah kebalikannya, seorang
istri tidak hanya berhias untuk suaminya semata, akan tetapi di
samping untuk suaminya, dia juga berhias untuk selain suami, bahkan
sebagian istri tidak berhias untuk suami, tetapi justru berhias untuk
orang lain, bukti dari hal ini adalah berhiasnya sebagian istri pada
saat dia keluar rumah, sementara di dalam rumah, istri tidak
memperhatikan dirinya, pakaiannya ala kadarnya dan rambutnya tidak
tertata rapi, tidak masalah kalau suami sedang tidak di rumah, tetapi
yang sering hal itu terjadi pada saat suami sedang berada di rumah,
namun begitu ada acara di luar rumah, maka dia akan berdandan habis,
untuk siapa? Jadi suami tidak meraih yang khusus dari istrinya,
sebagian jatahnya diberikan kepada orang lain.

Kepada siapa wanita menampakkan perhiasannya

Kepada orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firmanNya, "Dan
janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka atau
ayah mereka atau ayah suami mereka atau putra-putra mereka atau
putra-putra suami mereka atau saudara-saudara laki-laki mereka atau
putra-putra saudara lelaki mereka atau putra-putra saudara perempuan
mereka atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki
atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan
(terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat
wanita dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui
perhiasan yang mereka sembunyikan." (An-Nur: 31).

Dalam ayat ini Allah menjelaskan siapa-siapa yang boleh melihat
perhiasan seorang wanita, di samping suami yang memang berhak
mendapatkan bagian terbesar dan terkhusus, ada pula para mahram dan
orang-orang di mana terlihatnya perhiasan wanita kepada mereka tidak
menimbulkan fitnah dan kerusakan.

Macam-macam perhiasan

Pada dasarnya berhias dan perhiasan terbagi menjadi dua; perhiasaan
bawaan atau pemberian dan perhiasan buatan. Yang pertama berarti
perhiasan yang sudah dibawa atau dimiliki oleh seorang wanita sebagai
pemberian dari Allah seperti kecantikan wajah dan keindahan tubuh.
Yang kedua berarti perhiasan yang dihasilkan dan dilakukan oleh
seorang wanita dalam upaya menjaga dan menambah perhiasan yang pertama
seperti pakaian, make up, perlengkapan perhiasan, emas, perak dan
sebagainya.

Perhiasan pertama yang merupakan karunia ilahi, seorang wanita tidak
memiliki upaya dalam bagian ini, karena ia merupakan jatah dari
'sana', maka dia harus menerimanya dengan rela, tidak perlu menggerutu
dan meratapi jatah, lebih-lebih melakukan usaha-usaha merubah ciptaan
Allah, tidak perlu, karena pada dasarnya Allah menciptakan kaum hawa
ini dengan kecantikan dan keindahan, masing-masing memiliki porsi
darinya yang sudah ditakar oleh sang Pemberi, di lain pihak penilaian
terhadap kecantikan bersifat relatif dan yang penting bagi seorang
wanita adalah suami, jika suami sendiri ma fi musykilah dan menerima
bahkan memandangnya yang terbaik dan tercantik, maka hendaknya dia
bersyukur, karena dia memang demikian walaupun hanya di mata suami,
tetapi itu lebih dari cukup. Mau penilaian dari siapa? Orang lain?
Tidak perlu, memang dia itu siapa?

Barangkali yang perlu dan bisa dilakukan adalah menjaga, banyak hal
yang bisa dilakukan demi menjaga ini, misalnya menjaga makanan, makan
makanan yang berimbang sehingga tubuh tetap langsing dan tidak
melebar, makan sayur dan buah-buahan sehingga tubuh terlihat segar,
minum jamu atau ramuan-ramuan tertentu, beristirahat yang cukup
sehingga kesehatan terjaga, berolah raga sebatas yang diizinkan dan
mungkin dilakukan, dan masih banyak lagi perkara-perkara yang bisa
dilakukan demi menjaga perhiasan bawaan dan pemberian ilahi ini, tidak
masalah selama motivasi istri dalam melakukannya adalah hanya untuk
suami seorang.
(Izzudin Karimi)

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh
---------------------------------------------------------------------
dari: YAYASAN AL-SOFWA Jakarta


------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

[daarut-tauhiid] Bahaya Peranan Uang Dalam System Ekonomi Kapitalis

Link ke posting ini
Reaksi: 
By : alihozi

Kita semua mengetahui bahwa peran asli uang adalah sebagai skala nilai umum dan sebagai media pertukaran, sebagai pemecah kesulitan-kesulitan yang timbul dari system barter. Tapi sekarang ini dalam masyarakat kita uang sudah memainkan peran lain yang tidak terkait dengan peran aslinya yaitu peran menimbun dan mengakumulasi kekayaan dan bahkan mendorongnya dengan melegalisasi system bunga.

Dengan uang banyak orang tidak hanya bisa membeli komoditas apapun yang ia inginkan, namun juga bisa menyimpan uang selama yang ia kehendaki. Hal inilah yang dikemukakan baik oleh JM Keynes dan Milton Friedmen dalam teori-teori mereka tentang permintaan atas uang dalam masyarakat kapitalis.

Peran insidental uang sebagai instrument penumpukan dan akumulasi kekayaan, merupakan peranan yang terpenting dalam naungan system ekonomi kapitalis. Peran ini mendorong terjadinya penumpukan kekayaan, ini akan menggoncang keseimbangan antara permintaan total dan penawaran total dari keseluruhan komoditas, baik secara produktif maupun konsumtif.

Akibatnya banyak kekayaan yang dihasilkan yang tersimpan tak dibelanjakan. Pasar kapitalis akan sulit menariknya keluar dan mengalami krisis penumpukan kekayaan yang dihasilkan. Keadaan ini akan bisa mematikan pergerakan produksi dan pada gilirannya kehidupan ekonomi secara umum. Dalam rentang waktu yang panjang, kapitalisme tidak menyadari ancaman kesulitan-kesulitan yang muncul tsb dari penumpukan kekayaan akibat peran insendital uang ini.

Kekayaan akan terkosentrasi di tangan segelintir individu, kesengsaraan akan merata menimpa sebagian besar anggota masyarakat karena orang kebanyakan tidak bisa memenuhi kebutuhan berbagai komoditas untuk hidup mereka karena menurunnya daya beli mereka.

Dalam system ekonomi Islam tidak seperti system ekonomi kapitalis tsb, Islam sangat menentang penumpukan kekayaan dengan membebankan zakat atas harta yang ditumpuk, dan mendorong pembelanjaan uang dalam ranah-ranah produktif maupun konsumtif.

Firman Allah,SWT dalam Al-Qur'an : "…..supaya harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya saja diantara kalian". Qs 59:7

Dalam suatu riwayat Imam Ja'far Ash-Shadiq salah satu keturunan Rasulullah,SAAW yang terkenal menyatakaan, " Allah,SWT telah menganugerahi kalian kekayaan yang melimpah agar kalian membelanjakannya. Dia tidak menganugerahi kalian dengan semua itu untuk kalian timbun".

Oleh karena itu untuk mencegah bahaya peranan uang dalam system ekonomi kapitalis yang telah diuraikan diatas, kita semua harus mempunyai kesadaran penuh untuk melakukan introspeksi diri masing-masing apakah selama ini kita sudah menjalankan system ekonomi Islam dalam kehidupan kita sehari-hari yaitu :

1. Melaksanakan kewajiban membayar zakat , infaq dan sedekah dari harta kekayaan yang kita miliki.
2. Membelanjakannya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari tanpa berperilaku boros dan berlebih-lebihan

3. Membelanjakannya untuk membantu orang-orang yang tidak mampu baik dari sanak family kita sendiri maupun orang lain, walaupun mungkin family kita tsb atau orang lain tidak meminta-minta kepada kita, tapi terlihat dari tanda-tanda mereka kalau mereka memang membutuhkan bantuan pertolongan kita.

4. Membantu kegiatan-kegiatan agama Islam dan kegiatan-kegiatan sosial di masyarakat.
5. Menginvestasikan harta kita di ranah-ranah produktif

Ya Allah Ya Tuhan Kami, kami berlindung kepadaMu dari Sifat Bakhil atau Kikir dan berilah petunjukMu kepada kami agar kami bisa menggunakan harta kami sebaik-baiknya di jalan yang Engkau ridhai...Amiin

Wallahua'lam

Salam
Al-Faqir


http://alihozi77.blogspot.com
Bagi Anda yang membutuhkan pembiayaan dengan konsep bank syariah untuk keluarga dan perusahaan Anda dapat menghubungi Ali via sms : 0812-1249-001 atau email ali.hozi@yahoo.co.id


------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

[daarut-tauhiid] Keutamaan Bersedekah Kepada Faqir Miskin Yang Tidak Meminta-minta

Link ke posting ini
Reaksi: 
By : Alihozi


Suatu hari di salah satu bagian ibukota terjadi peristiwa kebakaran di malam hari yang melanda sebuah rumah keluarga kaya raya, yang mana seluruh penghuni rumah termasuk pemiliknya mati terbakar didalam rumah tsb. Para penghuni rumah tsb sudah berusaha keluar dari rumah namun karena semua pintu keluar sudah terkepung api dan jendela-jendela yang ditralis besi yang kuat maka mereka tidak bisa keluar.

Walaupun penghuni rumah tsb tidak pernah mau bergaul dengan para tetangga apalagi menolong tetangga yang sedang kesusahan, para tetangga rumah tsb tetap berusaha menolong mereka dg membawa linggis, namun karena terlampau kuat tralis besi jendela rumah tsb, maka sia-sialah usaha mereka untuk menolong.


Apa yang terjadi kepada keluarga kaya tsb bisa menjadi pelajaran yang berharga untuk kita semua yang mengaku beriman kepada Allah,SWT dan hari pembalasan bahwa untuk hidup bahagia dengan harta yang berlimpah aman dari maling,pencurian atau perampok adalah bukan dengan memasang tralis-tralis besi yang kuat di dalam rumah kita tapi kita harus menjalankan apa yang sudah diperintahkah dalam Al-Qur'an dan Sunnah yaitu melaksanakan Zakat,Infaq atau Shodaqah dari sebagian harta kita kepada para faqir miskin baik yang meminta-minta maupun tidak meminta kepada kita, khususnya di lingkungan sekitar kita.


Firman Allah,SWT dalam Al-Qur'an Qs. 2 : 273 :

" Berinfaqlah kepada orang-orang faqir yang terikat oleh jihad di jalan Allah, mereka tidak dapat berusaha di muka bumi , orang yang tidak menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta, kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya , mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang kamu nafkahkan (di jalan Allah) , maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui."


Dari ayat di atas jelas bahwa Allah,SWT memerintahkan kepada kita untuk menafkahkan sebagian dari harta kita kepada para faqir miskin baik yang meminta maupun tidak meminta tapi kita tahu mereka membutuhkan pertolongan dari tanda-tanda mereka dalam kehidupannya sehari hari.


Apalagi jaman sekarang ini yang mana banyak sekali orang yang miskin yang untuk makan sehari-hari saja mereka harus berjuang dari pagi s/d sore namun masih kekurangan makan karena masih harus membayar mahalnya sewa kontrakan rumah, namun mereka enggan meminta-minta kepada orang kaya. Orang-orang miskin seperti inilah juga harus kita bantu, mungkin minimal dengan memberikan sebagian makanan yang ada di rumah kita, bukankah ini perintah Baginda Nabi Kita Muhammad,SAW kepada kita ummatnya?


Ulama terkenal Imam Habib Abdullah Hadad dalam kitabnya "Nasihat Agama dan Wasiat Iman " dalam Bab Zakat,Infaq dan Sedekah mengatakan bahwa orang yang tidak mau mengeluarkan zakat,infaq atau sedekah terhadap sebagian hartanya akan mengalami hal-hal sebagai berikut :


1.Harta tsb bisa menjadi sumber bahaya, fitnah dan bencana.
2.Harta tsb terangkat berkahnya.
3.Harta tsb bisa menjadi sumber dari segala perbuatan dosa.
4.Hidup penuh gelisah dan keluh kesah, merasa bosan dg ketentuan Allah,SWT.
5.Dikhawatirkan meninggal dalam keadaan Suul Khatimah (keluar dari agama Islam).
6.Di akhirat harta yang tidak dikeluarkan zakatnya akan menyiksa yang empunya harta tsb di neraka.

Mohon maaf atas segala kekurangan,

Walllahua'lam

Al-Faqir


http://alihozi77.blogspot.com
Bagi anda yang membutuhkan pembiayaan untuk keluarga dan perusahaan anda dengan konsep bank syariah bisa menghubungi ali via sms 0812-1249-001 atau email ali.hozi@yahoo.co.id

------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Saturday, February 27, 2010

[daarut-tauhiid] Bersyukurlah kita ada di dunia ini setelah Nabi Muhammad saw tiada

Link ke posting ini
Reaksi: 
"Dan tidaklah kami mengutus engkauMuhammad, kecuali menjadi rahmat
bagi seluruh alam."

(Q.S. Al-Anbiya: 107)

Assalaamu 'alaikum wr wb

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Mendengar judul di atas mungkin yangmembaca ada yang heran, kenapa kita
mesti bersyukur? Bukankah akan terasa lebihnikmat apabila kita bisa
hidup semasa dengan baginda Rasul Muhammad saw? Dimanakita ada
kesempatan bertemu beliau, melihat kebenaran ajaran yang dibawabeliau,
mengadu pada beliau, bahkan mungkin berjuang, berjihad langsung
bersamabeliau?

Tulisan di bawah ini hanyalah sebuahpetikan kecil dari buku berjudul
"Rindu Rasul" yang ditulis oleh bpk JalaludinRahmat (semoga
beliau mendapat berkah atas tulisannya, amin). Sebagian saridari buku
itu cukup membuat hati saya terenyuh. Diriwayatkan oleh
Jalaludinal-Suyuthi dalam Tafsir al-Durr al-Mantsur, sebuah dialog
antara Nabi besarMuhammad saw sebagai imam dan para sahabatnya sebagai
makmum setelahmelaksanakan sholat berjama'ah yang haditsnya telah
digubah menjadi bentukpuisi:

----------------------------------

Usai salat kau pandangi kami

Masih dengan senyum yang sejuk itu

Cahayamu, ya Rasul Allah, tak mungkinkulupakan

Ingin kubenamkan setetes diriku dalamsamudra dirimu

Ingin kujatuhkan sebutir debuku dalamsahara tak terhinggamu

Kudengar kau berkata lirih:

Ayyul khalqi a'jabu ilaikum imanan?

Siapa mahluk yang imannya palingmempesona?

Malaikat, Ya Rasul Allah

Bagaimana malaikat tak beriman, bukankahmereka berada di samping Tuhan?

Para nabi, Ya Rasul Allah

Bagaimana nabi tak beriman, bukankahkepada mereka turun wahyu Tuhan?

Kami, para sahabatmu, Ya Rasul Allah

Bagaimana kalian tidak beriman, bukankahaku ditengah-tengah kalian?

Telah kalian saksikan apa yang kaliansaksikan

Kalau begitu , siapakah mereka Ya RasulAllah?

....

Langit Madinah bening

Bumi Madinah hening

Kami termangu

Siapa gerangan mereka yang imannya palingmempesona?

Kutahan napasku, kuhentikan detakjantungku, kudengar sabdamu

Yang paling menakjubkan imannya

Mereka yang datang sesudahku berimanpadaku,

Padahal tidak pernah melihatku danberjumpa denganku

Yang paling mempesona imannya

Mereka yang tiba setelah aku tiada yangmembenarkanku

Tanpa pernah melihatku

Bukankah kami ini saudaramu juga, YaRasul Allah?

Kalian sahabat-sahabatku

Saudaraku adalah mereka yang tidak pernahberjumpa denganku

Mereka beriman pada yang ghaib,mendirikan salat

Menginfakkan sebagian rezeki yang Kamiberiman kepada mereka

Kami terpaku

Langit madinah bening

Bumi madinah hening

Kudengar lagi engkau berkata:

Alangkah bahagianya aku memenuhi mereka

Suaramu parau, butir-butir air matamutergenang

Kau rindukan mereka, Ya Rasul Allah

Kau dambakan pertemuan dengan mereka yaNabi Allah

Assalamu'alaika ayyuhan Nabi warahmatullahi wa barakatuh

----------------------------------

Dari hadits di atas secara logika kitabisa menilai bahwa apabila kita
beriman pada Nabi Muhammad saw dengansebenar-benarnya maka insya Allah
akan ada penilaian tersendiri dari Allah,sebuah kelas tersendiri yang
membedakan kita (umat yang ada di dunia inisesudah Nabi tiada) terhadap
sahabat nabi, nabi-nabi yang sebelumnya, bahkanmalaikat sekalipun,
sebuah kelas yang spesial di mata Allah. Subhanallah…

Rasulullah saw bersabda: "Ada 3 hal yangbila ada semuanya pada diri
seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: pertama,Allah dan Rasul-Nya
lebih ia cintai dari apapun selain keduanya; kedua, iamencintai orang
semata-mata karena Allah; dan ketiga, ia benci untuk kembalikepada
kekafiran setelah Allah menyelamatkannya seperti ia benci
untukdilemparkan kedalam api neraka"(Shahih al-Bukhari)

Adapun bagi para pencinta Rasulullah saw,Allah akan menganugerahkan:

1. Digabungkan bersamanya

Secara ruhaniyah di dunia dan secarahakiki di akhirat. Prinsipnya sama
seperti bila kita mencintai sesuatu, yaitu:akan ada pembenaran atas apa
yang diajarkan oleh yang kita cintai,perilaku,pikiran, perasaan dan
tindakan juga sangat dipengaruhi oleh apa dan siapa yangkita cintai.

"Dan barangsiapa yang menta'atiAllah dan Rasul-Nya, mereka itu akan
bersama-sama dengan orang-orang yangdianugerahi ni'mat Allah, yaitu:
Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yangmati syahid dan orang-orang
shaleh. Dan mereka itulah teman yangsebaik-baiknya" (Q.S: An-Nisa 69)

2. Kelezatan iman

Lezatnya iman mungkin bisa digambarkandari kisah sbb. Terkisah segera
setelah Rasulullah saw wafat, Bilal tidak maulagi menyampaikan azan.
Beberapa hari angkasa Madinah tidak mendengar suaraBilal. Atas desakan
Fatimah, putri Nabi saw, Bilal mengumandangkan azan Subuh.

Seluruh Madinah terguncang. Bilal mulai denganAllahu Akbar, lalu kalimah
syahadat yang pertama. Begitu ia ingin menyebutkankalimat syahadat
kedua, suaranya tersekat dalam tenggorokan. Ia berhenti pada
"Muhammad" dan setelah itu tangisannya meledak, diikuti oleh
tangisan Fatimahdan seluruh penduduk Madinah al-Munawarrah. Ikrar iman
dalam ucapan syahadatmembuat rasa rindu semakin terasa lezat.

3. Kecintaan Allah swt

Karena Nabi saw adalah mahluk yang palingdicintai Allah swt. Siapapun
yang mencintai Nabi, menyayangi, merindui kekasihAllah, tentu akan
mendapat pula kecintaan dari Allah swt. 'Umar Ibn al-Khattabr.a berkata
bahwa Rasulullah saw bersabda, "Ratusan tahun Adam a.sditurunkan ke bumi
setelah berbuat dosa, hingga pada suatu ketika ia berdoa,'Ya Allah, aku
memohon kepadamu demi Muhammad untuk mengampuniku.' Allahberfirman
padanya, 'Bagaimana dirimu tahu akan Muhammad padahal Aku
belummenciptakannya?'. Adam pun menjawab, 'Karena ketika Engkau, Ya
Tuhanku,menciptakanku dengan Tangan-Mu, dan meniupkan padaku dari
Ruh-Mu, aku memandangke atas dan melihat tertulis di kaki-kaki 'Arasy,
Laa ilaaha illallah,Muhammadun Rasuulullah. Aku tahu bahwa Engkau tidak
akan menaruh suatu nama disamping Nama-Mu, melainkan pastilah itu adalah
nama seseorang yang palingKau-cintai dari makhluk-Mu.' Allah berfirman,
'Oh, Adam, kau telah mengatakankebenaran: dialah yang paling Kucintai di
antara makhluk ciptaan-Ku. Dan karenaengkau telah memohon pada-Ku demi
dirinya, engkau kuampuni. Seandainya tidakuntuk Muhammad, Aku tak akan
menciptakanmu.

4. Balasan cinta Rasulullah saw

Tidak ada pencinta Nabi saw yang bertepuksebelah tangan. Dalam riwayat
yang telah diceritakan sebelumnya, betapaRasulullah saw merindukan
pertemuan dengan umat yang mencintainya.

Terkisah pula pada detik-detik Nabimenjelang wafat, sahabat Ali r.a
mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullahyang mulai kebiruan. "Ummatii,
ummatii, ummatiii?" - "Umatku,umatku, umatku?" Betapa cintanya beliau
pada umatnya. Akankah kitamembalas cintanya dengan menyebut nama beliau
disisi Allah swt menjelang ajalkita sebagaimana Nabi saw memanggil kita
menjelang kematiannya?

5. Mendapatkan syafaat (pembelaan)-nyayang agung.

Yaitu bantuan Nabi saw dengan izin Allahuntuk meringankan dan bahkan
menghapuskan hukuman bagi para pendosa, bukannyatidak mungkin seseorang
bisa masuk surga tanpa dihisab bila pembelaanRasulullah saw diterima
oleh sang Khalik.

Mungkin kita masih ingat akankejadian-kejadian masa lalu ketika tabloid
Monitor menulis tentang orang didunia yang paling dikagumi sementara
Nabi Muhammad saw ditulis di urutanke-sebelas. Bukankah semestinya kita
menempatkannya di urutan pertama di hatikita? Apa yang bisa kita petik
dari kejadian ini? Masuk golongan mana kita?golongan yang menyalahkan
media tersebut? Atau golongan yang justru menyalahkandiri sendiri telah
melupakan Nabi saw selama ini? Atau ketika Salman Rushdiemencemooh Nabi
saw sebagai sumber permainan dengan berlindung atas nama duniaseni
kesastraan. Begitu pula Kurt Westergaard seorang kartunis dari surat
kabarJyllands-Posten yang menggambarkan karikatur Nabi saw dengan
segalacemoohannya. Apa hati kita terusik? apa kita merasa kalau mereka
sudahmencemoohi, meludah aqidah kita? Atau kita merasa bahwa hal itu
biasa saja.Atau mungkin kita merasa biar saja karena kita jauh dari
tempat kejadian dansaat ini Nabi pun sudah tidak ada?
"Astaghfirullah".

Ketika Maulid Nabi. Apa kita akan merasasantai seakan-akan sama saja
seperti hari yang lain? Apa kita bersikap lebihpasif atau diam diri saja
dalam menyambutnya dibanding umat nasrani yang begituantusias menyambut
Natal sebagai kelahiran Nabi Isa a.s? Betapa merekamenyambutnya dengan
kidung Natal menggema di mana-mana di gereja gereja hinggaartis-artis
mancanegara, ucapan "selamat Natal" dalam berbagai bentuk
darimulai kartu, email, poster, billboard, hingga acara radio, tv,
bioskop,internet, hiasan-hiasan pohon natal, dan lampu-lampu yang
meriah, promosi dandiskoun besar-besaran toko dan hypermarket yang
saling berlomba-lomba, kembangapi, lonceng berdentang-dentang,
acara-acara yang semarak baik di pertokoan,restoran, perkantoran hingga
ke pelosok rumah rumah kecil di berbagai belahandunia? Apa kita tidak
tergerak untuk lebih bersuka cita pada hari mulia MaulidNabi? Hari
kelahiran Junjungan kita yang begitu mulia, Baginda besar kita,
Nabibesar Rasulullah Muhammad saw. Lahirnya seorang utusan Allah swt ke
dunia yangmembawa perubahan besar yang sangat fenomenal dalam tatanan
hidup kita, sebuahajaran yang akan membawa kita untuk ditempatkan di
tingkat yang tinggi dan dicintaioleh Khaliknya!! Awal dari revolusi
akhlak yang teramat benar!! Sebuah hariyang sungguh teramat penting,
hari yang begitu luar biasa terang benderangnyabagi alam semesta!!
Walaupun tak ada sunnahnya untuk merayakan Maulid Nabidengan perayaan
besar-besaran, namun alangkah indahnya bila di hari yang muliaitu,
setidaknya kita bermuhasabah, berintrospeksi atau meneliti diri apakah
setiap langkah, setiap tindakan,setiap keputusan, setiap pemikiran kita
sudah mencerminkan kehidupan Nabi saw?

Semoga petikan ayat Al-Qur'an suratAl-Anbiya 107 di awal tulisan ini
bisa membuka hati kita semua, betapapentingnya kita mencintai dan
bersuka cita atas Nabi saw.

Bila kita kaji lagi apa yang bisa kitaperoleh jika kita menempatkan Nabi
saw pada urutan pertama di hati, maka kitaakan mendapatkan "iman yang
begitu indah mempesona".

Walaupun Nabi saw sudah tiada, mungkinjustru karena itulah kita perlu
bersyukur akan keberadaan kita sekarang denganberiman kepadanya dan
menjalankan sunnah-sunnah yang telah beliau contohkan.

Sebuah tantangan, perjuangan berat,teramat berat, insya Allah kita
termasuk insan yang dinanti dan dijemputsendiri oleh baginda Nabi saw
kelak di akhirat, insya Allah keluarga kita akandimohonkan syafaat oleh
baginda Nabi saw, insya Allah kita mendapat tempatspesial di mata Allah
swt, tempat yang indah tanpa dihisab, amin.

Sebagai sebuah renungan, mungkin kitasering mengucapkan dan mendengar
arti shalawat yang diperuntukkan bagi bagindaNabi saw dan keluarganya.
Nah! kalau kita termasuk orang yang beriman padaRasulullah saw padahal
kita sendiri tidak pernah berjumpa beliau, bukankah kitatelah menjadi
saudara Nabiyallah saw?? Keluarga Rasulullah saw juga?? (maridikaji
kembali petikan dialog Nabi saw dan sahabat-sahabatnya di bagian awal
tulisanini). Saya pribadi berfikir bukannya tak mungkin kalau ucapan
shalawat itu jugamengandung makna ucapan shalawat bagi kita-kita yang
beriman padanya. Sebuahberita gembira bila jika dalam makna shalawat
atas Nabi saw, kita akhirnya bisajuga bersanding dengan nama Muhammad
saw, kekasih Allah Subhanahu wa Ta `ala.

Allahumma sholli wa baarik `ala sayyidinaMuhammad wa `ala aali
wa shohbihi wasallam.

(Ucapkanlah sesering mungkin dan bilakita mendengar nama beliau disebut,
terutama sekali di hari Jum'at)

Ya Allah yang Maha Besar, tanamkan aqidahiman sedalam-dalamnya pada
diriku untuk senantiasa mencintai-Mu dan NabiMuhammad saw, lebih dari
apapun di alam semesta ini, amin ya rabbal `alamiin

Wassalam wr wb

Mohon maaf bila dalam tulisan di atas adakesalahan-kesalahan. Pasti yang
semua yang benar datangnya dari Allah, dankalau ada yang salah pastinya
karena kebodohan penulis sendiri.

[Non-text portions of this message have been removed]

------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Friday, February 26, 2010

[daarut-tauhiid] Makna Sholat Tahajud

Link ke posting ini
Reaksi: 
Makna Sholat Tahajud

By: agussyafii

Tahajud artinya 'bangun dari tidur di malam hari.'  Maka sholat tahajud dikerjakan di malam hari setelah tidur terlebih dahulu , walaupun tidurnya sebentar. Mengapa harus tidur dulu? Karena bangun tidur pikiran kita menjadi lebih segar dan fresh. Dengan tidur berarti proses pemulihan sel tubuh, penambahan kekuatan dan otak kita kembali berfungsi. Mengapa pula tengah malam atau sepertiga malam? Karena pada malam hari suasana hening dan tenang menunjang konsentrasi kita.

'Sesungguhnya bangun tengah malam adalah lebih mengena dan bacaannya lebih berkesan. Pasa siang hari engkau mempunyai urusan panjang. Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan.' (QS. al-Muzzamil:1-8).

Menurut at_Tabari, bacaannya lebih berkesan, maksudnya bahwa sholat malam lebih membekas dihati kita. Ketika aktifitas kehidupan terhenti dan kebanyakan manusia tertidur lelap. Bangun tengah malam terhindarkan kita dari riya.' Sholat tahajud juga mengajarkan keikhlasan. Ia barometer bagi orang yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Sengaja bangun malam hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki keinginan niat kuat. Niat yang kuat didorong oleh motivasi yang kuat sehingga sholat tahajud akan dilaksanakan dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh.

Yuk, sholat tahajud..!

Wassalam,
agussyafii

Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye program Kegiatan 'Munajat Amalia (MULIA)' Hari Ahad, Tanggal 7 Maret 2010 Di Rumah Amalia. Kirimkan dukungan dan partisipasi anda di http://www.facebook.com/agussyafii atau http://agussyafii.blogspot.com, http://www.twitter.com/agussyafii, atau sms di 087 8777 12 431


[Non-text portions of this message have been removed]

------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

[daarut-tauhiid] Kayalah Lalu Masuk Surga

Link ke posting ini
Reaksi: 
Seri : Tafsir Hadist
dakwatuna.com - Dari Abi `Abdillah Tsauban Bin Bujdad bahwa Rasulullah saw. Bersabda, "Dinar yang paling utama yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk kendaraannya di jalan Allah, dan dinar yang ia infakkan untuk rekan-rekannya (yang tengah berjuang) di jalan Allah." (Muslim)
Dalam kitab Nuzhatul-Muttaqin (syarah Riyadush-Shalihin karya Imam An-Nawawi) disebutkan, hadits itu menjelaskan peringkat keutamaan pengeluaran harta (infak) bahwa memberi nafkah kepada keluarga merupakan infak yang paling mulia. Dalam hadits lain disebutkan:

"Dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dinar yang engkau infakkan untuk (mememerdekakan) hamba sahaya, dinar yang engkau infakkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau infakkan untuk keluarga, yang paling utama di antara semua itu adalah dinar yang engkau infakkan kepada keluargamu." (Muslim)

Ke manapun alokasinya, yang jelas seseorang tidak mungkin dapat berinfak jika tidak memiliki harta. Lebih-lebih jika kita mencermati ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan kita terlibat dalam jihad. Selalu saja disandingkan antara kewajiban berjihad dengan jiwa dengan kewajiban berjihad dengan harta. Bahkan dari semua ayat yang memerintahkan kita berjihad dengan harta dan jiwa, berjihad dengan harta selalu didahulukan kecuali pada satu ayat saja yakni ayat 111 surah At-Taubah, yang maknanya:

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin jiwa dan harta mereka dengan mendapatkan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh."

Selebihnya, hartalah yang disebut terdahulu. Perhatikan ayat-ayat berikut:

"Wahai orang-orang yang beriman, inginkah kalian aku tunjukkan pada suatu perniagaan yang menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih. Kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kalian berjihad di jalan Allah denganh harta dan jiwa kalian." (Ash-Shaf: 10-11)

Ini diperkuat dengan adanya kewajiban zakat. Dalam urusan yang satu ini memang ada kesalahan persepsi pada sebagian kaum muslimin. Kewajiban zakat sering dipahami begini: kalau punya harta, zakatlah; kalau tidak punya, tidak usah mengeluarkan zakat. Secara fiqih, pemahaman itu sangat benar. Tapi semangatnya bukanlah semangat kepasrahan pada keadaan. Semangat perintah zakat harusnya dipahami: carilah uang, kumpulkanlah harta agar dapat melaksanakan perintah Allah yang bernama zakat. Seharusnya kita membawa semangat shalat untuk diterapkan pada zakat. Kita selalu berpikir kita harus bisa melaksanakan shalat dengan segala perjuangan yang menjadi konsekuensinya. Dari mulai mencari penutup aurat, mencari tempat shalat, menentukan arah kiblat, mensucikan diri, dan seterusnya.

Itu semua mematahkan anggapan yang masih dianut sebagian orang bahwa kesalihan dan ketakwaan identik dengan kepapaan, kemelaratan, kesengsaraan, dan ketertindasan. Seolah-olah hanya orang miskin, jelata, dan tertindaslah yang layak menghuni surga. Sebaliknya orang kaya dan orang yang punya jabatan tidak punya tempat di surga. Ini diperparah dengan sering disitirnya hadits-hadits dha'if (lemah) atau bahkan maudhu' (palsu) yang memberikan pesan untuk menjauhi dunia sejauh-juahnya demi mencapai ketakwaan dan kesucian jiwa. Atau mungkin juga menyitir hadits shahih tentang zuhud dengan pemahaman yang salah.

Zuhud tidaklah identik dengan melarat. Zuhud adalah kepuasaan hati dengan apa yang diberikan Allah swt. Zuhud adalah ketiadaan ikatan hati kepada kekayaan. Bahwa sambil merasa puas dengan apa yang Allah berikan dan sambil meniadakan ikatan hati dengan harta seseorang memiliki harta dan jabatan, tidaklah menafikan sifat zuhud.

Utsman Bin `Affan adalah konglomerat dan kaya raya. Beliau termasuk sahabat Nabi saw. yang dijamin masuk sorga. Demikian pula halnya dengan `Abdurrahman Bin `Auf. Beliau sukses dalam bisnis dan menjadi saudagar kaya raya. Toh beliau juga termasuk yang dijamin masuk surga. Umar Bin `Abdul-`Aziz, khalifah yang kaya raya. Tapi justeru dia termasuk orang zuhud.

Posisi harta dalam Islam sama dengan posisi kemiskinan: sebagai ujian bagi manusia. Dengan kekayaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kekayaan pula orang bisa masuk neraka. Dengan kepapaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kepapaan pula orang bisa masuk neraka. Semuanya ujian! Allah swt. menegaskan:

"Dan Kami coba kalian dengan keburukan dan kebaikan, (semuanya) sebagai ujian." (Al-Anbiya: 35)

Rasulullah saw. bersabda:

"Sesungguhnya dunia itu manis dan menghijau. Dan sesungguhnya Allah mengangkat kalian sebagai khalifah di dalamnya untuk melihat (menguji) bagaimana kalian bekerja. Maka berhati-hatilah dengan dunia dan berhati-hatilah dengan wanita. Karena sesungguhnya fitnah Bani Israil adalah pada wanita." (Riwayat Muslim)

Jadi, orang yang saleh bukanlah orang memilih meninggalkan harta melainkan yang lulus dalam ujian mengelola harta itu. Seseorang dianggap lulus ujian dalam urusan harta manakala:

Hanya menempuh cara halal untuk memperoleh harta.
Pada hari kiamat, setiap orang akan diminta pertanggungjawaban terkait dengan hartanya, dari manakah ia memperolehnya dan dengan cara apa? Ini batu ujian pertama. Rasulullah saw. bersabda:

Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman seperti yang diperintahkan kepada para rasul. Dia berfirman, `Wahai para rasul, makanlah dari yang baik dan beramal salehlah karena sessungguhnya Aku mengetahui apa yang kamlian lakukan'. Dia juga berfirman, `Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik dari yang Kami rezekikan kepada kalian'." Lalu Rasulullah saw. menerangkan tentang orang yang mengadakan perjalanan panjang, kusut masai dan berdebu. Ia mengadakahkan kedua tangannya (berdoa) ke langit (sambil mengatakan): Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dari yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan." (Muslim)

Harta itu tidak menyebabkan sombong
Orang yang suksus mengelola harta adalah orang yang dengan hartanya justeru semakin rendah hati dan menyadari bahwa segala yang dimilikinya adalah titipan atau amanah dari Allah. Abdurrahman bin `Auf yang padahal termasuk orang yang dijamin masuk surga pernah berlinang air mata saat dirinya siap menyantap hidangan lezat yang ada di hadapannya. Ketika ditanya penyebab ia menangis, ia menjawab, "Aku takut hanya yang kunikmati di dunia inilah yang menjadi ganjaranku dari Allah."

Menjadi fasilitas untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Rasulullah saw bersabda, "Sebaik-baik harta yang saleh adalah yang ada pada orang saleh." Beliau juga memerintahkan kepada kita, "Jauhkanlah dirimu dari neraka walau dengan hanya sebelah kurma."

Menjadi fasilitas untuk silaturahim.
Infaq adalah baik. Dan infaq kepada kerabat adalah lebih baik lagi. Karena selain bernilai taqarrub, perbauatan itu juga merupakan upaya silaturahim. Rasulullah saw. bersabda, "Shadaqah kepada orang misikin adalah satu shadaqah dan shadaqah kepada orang yang punya hubungan rahim (kerabat) adalah dua shadaqah: shadaqah dan shilah (menyambungkan)." (At-Tirmidzi)

Menjadi fasilitas untuk perjuangan.
Perjuangan Islam jelas tidak mungkin tanpa dukungan finansial. Kekuatan orang-orang kafir harus dihadapi dengan kekuatan optimal kaum muslimin. Dan ini tentu saja salah kekutan itu adalah kekuatan maliyyah (finansial).

Itulah sebagian ajaran Islam yang terkait dengan kekayaan. Jadi, menjadi orang kaya, siapa takut? Allahu a'lam.

sumber : dakwatuna.com


------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

[daarut-tauhiid] Kajian Bersama dan Aqidah MKI

Link ke posting ini
Reaksi: 
Assalamu'alaikum wr.wb. Alhamdulillah,
segala puji bagi Allah, yang selalu memberikan jalan bagi umat-Nya,
yang ingin menggapai ridho-Nya. Salam dan shalawat kepada manusia
paling mulia, Muhammad Rasulullah SAW, yang seluruh perilaku dan
perbuatan beliau, merupakan contoh paling baik di dunia.
Sahabat,
setelah sekian lama Kajian Aqidah bersama Ustadz Ihsan Hakim
diliburkan, berkat ijin Allah, bisa dilaksanakan kembali dengan jadwal
setiap Ahad ke-III setiap bulan pukul 13.00 - 15.00 WIB di  Mesjid Baitussalam, Jl. Merpati 1, Komp. Paspampres (Komseko), Kp. Tengah-Kramat Jati, Jakarta Timur.
Jadi,
setiap Ahad ke-III setiap bulan, menjadi hari kajian Majelis Keluarga
Islami. Pagi jam 09.30 - 12.00 WIB, Kajian Bersama dengan Ustadz
Miftahuddin, dilanjutkan dengan Kajian Aqidah bersama Ustadz Ihsan
Hakim, jam 13.00 - 15.00 WIB. Insya Allah, kedua kajian ini akan
dimulai Ahad, 21 Maret 2010.  Kajian ini terbuka untuk UMUM dengan syarat sangat ringan :
1.
Akhwat wajib mengenakan jilbab, Ikhwan dilarang merokok. Jika tidak
keberatan, dipersilakan mengenakan busana muslim/muslimah dengan warna
atas putih dan bawah hitam/gelap.
2. Membawa kitab al-Qur'an dan terjemahan serta alat tulis.
Khusus
Aggota Sehati MKI (Anggota Baru dan Daftar Ulang), wajib mengikuti
kedua kajian tersebut, pastikan untuk menyediakan waktu setiap Ahad
ke-III

Sahabat, hanya dengan ILMU kita bisa beribadah dengan baik dan benar
serta maksimal. Dan Insya Allah, hanya dengan ILMU kita akan menjadi
muslim yang sesungguhnya, bukan muslim apa adanya. Dan hanya dengan
ILMU, Insya Allah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah akan
semakin ringan, mudah dan mendapat ridho-Nya. Amin. Mohon sebarkan
kepada sahabat lainnya. Jazakumullah khoiron katsiiroo.
Wassalamu'alaikum wr.wb. Rico Atmaka - 021-50212373 / 08158018156 / 08558406013 / 088211017510 / R-8412695 Koordinator MKI www.keluarga-islami.com e-mail :

\n keluarga.islami@yahoo.com


___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]

------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

[daarut-tauhiid] KEWAJIBAN UNTUK BERTAUHID

Link ke posting ini
Reaksi: 
BismillaaHir Rohmaanir Rohiim
Assalamu'alaykum wa RohmatulloHi wa BarokatuHu
 
Kita mendapatkan perkara tauhid sebagai barang langka di kehidupan sebagian masyarakat muslimin. Tidak dengan mudah kita menemuinya walaupun mereka mengaku sebagai muslimin. Maka perlu untuk membangkitkan kembali semangat bertauhid di tengah umat ini. Karena tauhid adalah hak Allah yang paling wajib untuk ditunaikan oleh manusia.


Tulisan ini merupakan satu rangkaian, dikarenakan begitu panjang, untuk meringankan dalam membacanya, saya akan posting menjadi beberapa tulisan...insya Alloh
 
mudah2an bermanfaat..untuk memperkokoh akidah kita semua dan menjadikan amal sholih yang ikhlas karena Allohu ta'ala bagi sang penulis dan kita semua..amiin
 
 
Kewajiban untuk Bertauhid

Oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu'thi Al-Maidani

Merupakan suatu perkara yang tidak bisa disangkal, bahwa alam semesta ini pasti ada yang menciptakan. Yang mengingkari hal tersebut hanyalah segelintir orang. Itu pun karena mereka tidak menggunakan akal sesuai dengan fungsinya. Sebab akal yang sehat akan mengetahui bahwa setiap yang tampak di alam ini pasti ada yang mewujudkan. Alam yang demikian teratur dengan sangat rapi tentu memiliki pencipta, penguasa, dan pengatur. Tidak ada yang mengingkari perkara ini kecuali orang yang tidak berakal atau sombong dan tidak mau menggunakan pikiran sehat. Mereka tidaklah bisa dijadikan tempat berpijak dalam menilai.

Dzat yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta ini adalah Allah subhanahu wa ta`ala. Inilah yang disebut dengan rububiyyah Allah. Tauhid rububiyyah adalah sebuah keyakinan yang diakui bahkan oleh kaum musyrikin. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

"Katakanlah: Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya) ?" (Yunus:31)

Oleh sebab itu, selayaknya manusia hanya menyembah kepada Allah subhanahu wa ta`ala saja. Allah subhanahu wa ta`ala telah menciptakan untuk manusia berbagai prasarana berupa alam semesta ini. Semua itu untuk mewujudkan peribadatan kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta`ala juga membantu mereka untuk mewujudkan peribadahan tersebut dengan limpahan rezeki. Sedangkan Allah tidak membutuhkan imbalan apa pun dari para makhluk-Nya.

Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh." (Adz-Dzaariyaat: 56-58)

Sesungguhnya tauhid tertanam pada jiwa manusia secara fitroh. Namun asal fitroh ini dirusak oleh bujuk rayu syaithan yang memalingkan dari tauhid dan menjerumuskan ke dalam syirik. Para syaithan baik dari kalangan jin dan manusia bahu-membahu untuk menyesatkan umat dengan ucapan-ucapan yang indah.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaithan-syaithan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-pekataan yang indah-indah untuk menipu manusia" (Al-An'aam:112)

Tauhid adalah asal yang terdapat pada fitroh manusia sejak dilahirkan. Sedangkan kesyirikan adalah sesuatu yang mendatang dan merasuk ke dalam pikiran manusia. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah di atas) fitroh Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitroh itu.. Tidak ada perubahan pada fitroh Allah." (Ar-Ruum:30)

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,

"Setiap anak yang lahir, dilahirkan atas fitroh, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nashroni, atau Majusi" (HR.Al-Bukhari)

Berarti asal yang tertanam pada diri manusia secara fitroh adalah bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta`ala.
 
Wallahu a'lam bishshawaab.

bersambung insya Alloh...
 
(Sumber: http://alhujjah. wordpress. com/tauhid)

 
Walhamdulillaahi Rabbil 'Alamiin
 
Wassalamu'alaykum wa RohmatulloHi wa BarokatuHu


[Non-text portions of this message have been removed]

------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

[daarut-tauhiid] MAU SUKSES, BERSYUKUR!

Link ke posting ini
Reaksi: 
MAU
SUKSES, BERSYUKUR!

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih." (Ibrahim, 14:7)

Kebanyakan
orang meyakini bahwa dalam hidup ia harus berjuang meraih semua keinginannya
dengan berusaha keras, membanting tulang hingga tetes darah penghabisan.
Padahal tuntunan agama menjanjikan berbagai kemudahan atau kesuksesan akan dating
menghampiri jika dalam ikhtiarnya manusia berhasil bersyukur, menikmati prosesnya, dan menyerahkan seluruh
urusan dan kepentingan hanya kepada Allah. ( Dinukil dari Quantum Ikhlas )

SEDIKIT DEMI SEDIKIT MENJADI BUKIT

"Amal apa yang disukai Allah? Tanya
Sahabat. Jawab Rasul: Yang berkesinambungan walau sedikit" (al-hadist)

Pepatah ini sederhana saja, "Sedikit Demi Sedikit lama-lama Menjadi
Bukit". Kita biasa memaknainya bila kita kumpulkan sesen demi sesen, pada
saatnya kita bisa kumpulkan sepundi. Namun sesungguhnya pepatah ini tak sekedar
berbicara tentang hidup hemat atau ketekunan menabung. Pepatah ini menyiratkan sesuatu
yang lebih berharga dari sekedar sekantung keping uang, yaitu bila kita mampu
mengumpulkan kebaikan dalam setiap tindakan-tindakan kecil kita, maka kita akan
dapati kebesaran jiwa kita.

Bagaimanakah tindakan-tindakan
kecil itu mencerminkan kebesaran jiwa sang pemiliknya? Yaitu: bila disertai
secercah kasih sayang di dalamnya. Ucapan terimakasih, sesungging senyum,
sapaan ramah atau pelukan bersahabat, adalah tindakan yang sepele saja. Namun
dalam balutan kasih sayang, ia lebih tinggi daripada bukit tabungan anda.
Motivasi.net

pengajianalif.blogspot.com

pengajianalif ada di facebook dan twitter


__________________________________________________________________
Ask a question on any topic and get answers from real people. Go to Yahoo! Answers and share what you know at http://ca.answers.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]

------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Thursday, February 25, 2010

[daarut-tauhiid] OOT: Ysh. Ikhwahfillah wal Akhwatfillah, mari kita bantu saudara kita ini, kasihan beliau dan keluarganya . . . . .

Link ke posting ini
Reaksi: 
*Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Yth. Bapak dan Ibu
di tempat.

Nama saya Saefudin, umur 26 tahun, asal dari tegal, sudah menikah,
dikarunia 1 orang putra, umurnya masih kurang 2 minggu, saya lulusan SMP
dan Lulusan Madrasah Diniyah. saya tinggal di Jl. Kencur, Kampung Muka,
Rt. 02 Rw. 04, Ancol Pademangan, Jakarta Utara.dua...

Kegiatan yang dilakukan sekarang mengajar ngaji di TPA dan Mushola dan
juga aktif di Majlis Silaturrahim Al-Asma ul Husna sebagai pengajar
bahasa arab dan kajian ilmu agama lainnya, dan sering di suruh sebagai
MC di acara - acara pengajian atau Hajatan. atau Pengisi Ceramah Jum'at
atau Penceramah hari - hari besar Islam, dan lain - lain. dan saya juga
aktif di PKS mangga dua

Bapak, Ibu dan kakak yang saya hormati Sudah lama saya mencari pekerjaan
untuk membantu orang tua dikampung sekaligus membiayai keluarga, istri
dan anak di kampung. bapak dan ibu pendidikan saya tidak tinggi, tapi
saya mempunyai semangat dalam bekerja, kejujuran, ketelitian, di siplin,
sabar, amanah dan tanggung jawab adalah modal utama saya dalam bekerja.
dan bisa memberikan yang terbaik di tempat saya bekerja, dengan
bersungguh - sungguh dalam menjalankan sesuatu.

Saya sangat sekali membutuhkan pekerjaan, pekerjaan apa saja mau asalkan
halal,saya bisa bekerja sebagai :

* Penjaga toko / warung / Restoran
* Jaga rumah / toko
* Pembantu rumah / Tukang Kebun
* Office boy / pesuruh kantor / rumah
* Marbot Masjid / Pesuruh masjid ( yang bersih - bersih masjid )
* Pengajar TPA / Pengajar NGaji Bahasa Arab, Shiroh Shohabi dan ilmu
lainnya.
* Menjadi MC / Protokol untuk Acara Pengajian / Hajatan
* Penceramah, Hari Jum'at atau hari besar islam, dan lain - lain
* Pembersih motor ( cucian motor / mobil )
* Dan lain - lain pekerjaan apa saja, asalkan halal saya mau.


pekerjaan apa saja saya mau. asalkan halal. Bapak, ibu dan kakak - kakak
tolonglah saya, tolong bantulah keluarga kami.

Ya Allah mudahkan urusan keluarga kami, beri kami kemudahan untuk bisa
meneruskan kehidupan ini. Semoga Engkau mendengar doa kami ini . . . . . .

Saya dapat di hubungi :
---------------------------
Jl. Kencur, Kampung Muka, Rt. 02 Rw. 04, Ancol Pademangan, Jakarta Utara.

* Telepon : 0813.110.819.06
* Email : mas.saefudin@gmail.com <mailto:mas.saefudin@gmail.com>
* Email : mas.saefudin@yahoo.co.id <mailto:mas.saefudin@yahoo.co.id>
* Blogger : http://saefudin83.blogspot.com <http://saefudin83.blogspot.com/>
* Facebook : mas.saefudin@gmail.com <mailto:mas.saefudin@gmail.com>


Atas perhatian dan bantuan bapak, ibu dan kakak saya dan keluarga
mengucapkan terima kasih. semoga Allah Azza Wa Jalla membalas bapak, ibu
dan kakak - kakak dengan balasan yang berlipat ganda, Fi Dunna Wa Al
Akhirat. Jazakumullah Khairan Katsiro.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Hormat saya.

Saefudin.
Diposkan oleh SAEFUDIN di 01:04
Label: bekerja apa saja, butuh kerja, cari kerja, lowongan kerja, vacancy *


[Non-text portions of this message have been removed]

------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

[daarut-tauhiid] Newsweek, February 12, 2010 - The Jihad Against the Jihadis

Link ke posting ini
Reaksi: 
Just FYI ...

satriyo

--
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang.
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest.
N'est-ce point par l'évocation d'Allah que se tranquillisent les coeurs.
im Gedenken Allahs ist's, daß Herzen Trost finden können.
>> al-Ra'd [13]: 28


---------- Forwarded message ----------
From: Dharmawan Ronodipuro <dharmawan.ronodipuro@gmail.com>

* *

*The Jihad Against the Jihadis*

*How moderate Muslim leaders waged war on extremists—and won. *

By *Fareed Zakaria <http://www.newsweek.com/id/173014>* | NEWSWEEK

Published Feb 12, 2010

From the magazine issue dated Feb 22, 2010

September 11, 2001, was gruesome enough on its own terms, but for many of
us, the real fear was of what might follow. Not only had Al Qaeda shown it
was capable of sophisticated and ruthless attacks, but a far greater concern
was that the group had or could establish a powerful hold on the hearts and
minds of Muslims. And if Muslims sympathized with Al Qaeda's cause, we were
in for a herculean struggle. There are more than 1.5 billion Muslims living
in more than 150 countries across the world. If jihadist ideology became
attractive to a significant part of this population, the West faced a clash
of civilizations without end, one marked by blood and tears.

These fears were well founded. The 9/11 attacks opened the curtain on a
world of radical and violent Islam that had been festering in the Arab lands
and had been exported across the globe, from London to Jakarta. Polls all
over the Muslim world revealed deep anger against America and the West and a
surprising degree of support for Osama bin Laden. Governments in most of
these countries were ambivalent about this phenomenon, assuming that the
Islamists' wrath would focus on the United States and not themselves. Large,
important countries like Saudi Arabia and Indonesia seemed vulnerable.

More than eight eventful years have passed, but in some ways it still feels
like 2001. Republicans have clearly decided that fanning the public's fears
of rampant jihadism continues to be a winning strategy. Commentators furnish
examples of backwardness and brutality from various parts of the Muslim
world—and there are many—to highlight the grave threat we face.

But, in fact, the entire terrain of the war on terror has evolved
dramatically. Put simply, the moderates are fighting back and the tide is
turning. We no longer fear the possibility of a major country succumbing to
jihadist ideology. In most Muslim nations, mainstream rulers have stabilized
their regimes and their societies, and extremists have been isolated. This
has not led to the flowering of Jeffersonian democracy or liberalism. But
modern, somewhat secular forces are clearly in control and widely supported
across the Muslim world. Polls, elections, and in-depth studies all confirm
this trend.

The focus of our concern now is not a broad political movement but a handful
of fanatics scattered across the globe. Yet Washington's vast
nation-building machinery continues to spend tens of billions of dollars in
Iraq and Afghanistan, and there are calls to do more in Yemen and Somalia.
What we have to ask ourselves is whether any of that really will deter these
small bands of extremists. Some of them come out of the established
democracies of the West, hardly places where nation building will help. We
have to understand the changes in the landscape of Islam if we are going to
effectively fight the enemy on the ground, rather than the enemy in our
minds.

Once, no country was more worrying than bin Laden's homeland. The Kingdom of
Saudi Arabia, steward of the holy cities of Mecca and Medina, had surpassed
Egypt as the de facto leader of the Arab world because of the vast sums of
money it doled out to Islamic causes—usually those consonant with its
puritanical Wahhabi doctrines. Since 1979 the Saudi regime had openly
appeased its homegrown Islamists, handing over key ministries and funds to
reactionary mullahs. Visitors to Saudi Arabia after 9/11 were shocked by
what they heard there. Educated Saudis—including senior members of the
government—publicly endorsed wild conspiracy theories and denied that any
Saudis had been involved in the 9/11 attacks. Even those who accepted
reality argued that the fury of some Arabs was inevitable, given America's
one-sided foreign policy on the Arab-Israeli issue.

America's initial reaction to 9/11 was to focus on Al Qaeda. The group was
driven out of its base in Afghanistan and was pursued wherever it went. Its
money was tracked and blocked, its fighters arrested and killed. Many other
nations joined in, from France to Malaysia. After all, no government wanted
to let terrorists run loose in its land.

But a broader conversation also began, one that asked, "Why is this
happening, and what can we do about it?" The most influential statement on
Islam to come out of the post-9/11 era was not a presidential speech or an
intellectual's essay. It was, believe it or not, a United Nations report. In
2002 the U.N. Development Program published a detailed study of the Arab
world. The paper made plain that in an era of globalization, openness,
diversity, and tolerance, the Arabs were the world's great laggards. Using
hard data, the report painted a picture of political, social, and
intellectual stagnation in countries from the Maghreb to the Gulf. And it
was written by a team of Arab scholars. This was not paternalism or
imperialism. It was truth.

The report, and many essays and speeches by political figures and
intellectuals in the West, launched a process of reflection in the Arab
world. The debate did not take the form that many in the West wanted—no one
said, "You're right, we are backward." But still, leaders in Arab countries
were forced to advocate modernity and moderation openly rather than hoping
that they could quietly reap its fruits by day while palling around with the
mullahs at night. The Bush administration launched a series of programs
across the Muslim world to strengthen moderates, shore up civil society, and
build forces of tolerance and pluralism. All this has had an effect. From
Dubai to Amman to Cairo, in some form or another, authorities have begun
opening up economic and political systems that had been tightly closed. The
changes have sometimes been small, but the arrows are finally moving in the
right direction.

Ultimately, the catalyst for change was something more lethal than a report.
After 9/11, Al Qaeda was full of bluster: recall the videotapes of bin Laden
and his deputy, Ayman al-Zawahiri, boasting of their plans. Yet they
confronted a far less permissive environment. Moving money, people, and
materials had all become much more difficult. So they, and local groups
inspired by them, began attacking where they could—striking local targets
rather than global ones, including a nightclub and hotel in Indonesia, a
wedding party in Jordan, cafés in Casablanca and Istanbul, and resorts in
Egypt. They threatened the regimes that, either by accident or design, had
allowed them to live and breathe.

Over the course of 2003 and 2004, Saudi Arabia was rocked by a series of
such terrorist attacks, some directed against foreigners, but others at the
heart of the Saudi regime—the Ministry of the Interior and compounds within
the oil industry. The monarchy recognized that it had spawned dark forces
that were now endangering its very existence. In 2005 a man of wisdom and
moderation, King Abdullah, formally ascended to the throne and inaugurated a
large-scale political and intellectual effort aimed at discrediting the
ideology of jihadism. Mullahs were ordered to denounce suicide bombings, and
violence more generally. Education was pried out of the hands of the
clerics. Terrorists and terror suspects were "rehabilitated" through
extensive programs of education, job training, and counseling. Central
Command chief Gen. David Petraeus said to me, "The Saudi role in taking on
Al Qaeda, both by force but also using political, social, religious, and
educational tools, is one of the most important, least reported positive
developments in the war on terror."

Perhaps the most successful country to combat jihadism has been the world's
most populous Muslim nation, Indonesia. In 2002 that country seemed destined
for a long and painful struggle with the forces of radical Islam. The nation
was rocked by terror attacks, and a local Qaeda affiliate, Jemaah Islamiah,
appeared to be gaining strength. But eight years later, JI has been
marginalized and main-stream political parties have gained ground, all while
a young democracy has flowered after the collapse of the Suharto
dictatorship.

Magnus Ranstorp of Stockholm's Center for Asymmetric Threat Studies recently
published a careful study examining Indonesia's success in beating back
extremism. The main lesson, he writes, is to involve not just government but
civil society as a whole, including media and cultural figures who can act
as counterforces to terrorism. (That approach obviously has greater
potential in regions and countries with open and vibrant political
systems—Southeast Asia, Turkey, and India—than in the Arab world.)

Iraq occupies an odd place in this narrative. While the invasion of Iraq
inflamed the Muslim world and the series of blunders during the initial
occupation period created dangerous chaos at the heart of the Middle East,
Iraq also became a stage on which Al Qaeda played a deadly hand, and lost.
As Al Qaeda in Iraq gained militarily, it began losing politically. It
turned from its broader global ideology to focus on a narrow sectarian
agenda, killing Shias and fueling a Sunni-Shia civil war. In doing so, the
group also employed a level of brutality and violence that shocked most
Iraqis. Where the group gained control, even pious people were repulsed by
its reactionary behavior. In Anbar province, the heart of the Sunni
insurgency, Al Qaeda in Iraq would routinely cut off the fingers of smokers.
Even those Sunnis who feared the new Iraq began to prefer Shia rule to such
medievalism.

Since 9/11, Western commentators have been calling on moderate Muslim
leaders to condemn jihadist ideology, issue *fatwas* against suicide
bombing, and denounce Al Qaeda. Since about 2006, they've begun to do so in
significant numbers. In 2007 one of bin Laden's most prominent Saudi
mentors, the preacher and scholar Salman al-Odah, wrote an open letter
criticizing him for "fostering a culture of suicide bombings that has caused
bloodshed and suffering, and brought ruin to entire Muslim communities and
families." That same year Abdulaziz al ash-Sheikh, the grand mufti of Saudi
Arabia, issued a *fatwa* prohibiting Saudis from engaging in jihad abroad
and accused both bin Laden and Arab regimes of "transforming our youth into
walking bombs to accomplish their own political and military aims." One of
Al Qaeda's own top theorists, Abdul-Aziz el-Sherif, renounced its extremism,
including the killing of civilians and the choosing of targets based on
religion and nationality. Sherif—a longtime associate of Zawahiri who
crafted what became known as Al Qaeda's guide to jihad—has called on
militants to desist from terrorism, and authored a rebuttal of his former
cohorts.

Al-Azhar University in Cairo, the oldest and most prestigious school of
Islamic learning, now routinely condemns jihadism. The Darul Uloom Deoband
movement in India, home to the original radicalism that influenced Al Qaeda,
has inveighed against suicide bombing since 2008. None of these groups or
people have become pro-American or liberal, but they have become
anti-jihadist.

This might seem like an esoteric debate. But consider: the most important
moderates to denounce militants have been the families of radicals. In the
case of both the five young American Muslims from Virginia arrested in
Pakistan last year and Christmas bomber Umar Farouk Abdulmutallab, parents
were the ones to report their worries about their own children to the U.S.
government—an act so stunning that it requires far more examination, and
praise, than it has gotten. This is where soft power becomes critical. Were
the fathers of these boys convinced that the United States would torture,
maim, and execute their children without any sense of justice, they would
not have come forward. I doubt that any Chechen father has turned his child
over to Vladimir Putin's regime.

The data on public opinion in the Muslim world are now overwhelming. London
School of Economics professor Fawaz Gerges has analyzed polls from dozens of
Muslim countries over the past few years. He notes that in a range of
places—Jordan, Pakistan, Indonesia, Lebanon, and Bangladesh—there have been
substantial declines in the number of people who say suicide bombing and
other forms of violence against civilian targets can be justified to defend
Islam. Wide majorities say such attacks are, at most, rarely acceptable.

The shift has been especially dramatic in Jordan, where only 12 percent of
Jordanians view suicide attacks as "often or sometimes justified" (down from
57 percent in 2005). In Indonesia, 85 percent of respondents agree that
terrorist attacks are "rarely/never justified" (in 2002, by contrast, only
70 percent opposed such attacks). In Pakistan, that figure is 90 percent, up
from 43 percent in 2002. Gerges points out that, by comparison, only
46 percent of Americans say that "bombing and other attacks intentionally
aimed at civilians" are "never justified," while 24 percent believe these
attacks are "often or sometimes justified."

This shift does not reflect a turn away from religiosity or even from a
backward conception of Islam. That ideological struggle persists and will
take decades, not years, to resolve itself. But the battle against jihadism
has fared much better, much sooner, than anyone could have imagined.

The exceptions to this picture readily spring to mind—Afghanistan, Pakistan,
Yemen. But consider the conditions in those countries. In Afghanistan,
jihadist ideology has wrapped itself around a genuine ethnic struggle in
which Pashtuns feel that they are being dispossessed by rival groups. In
Pakistan, the regime is still where Saudi Arabia was in 2003 and 2004:
slowly coming to realize that the extremism it had fostered has now become a
threat to its own survival. In Yemen, the state simply lacks the basic
capacity to fight back. So the rule might simply be that in those places
where a government lacks the desire, will, or capacity to fight jihadism, Al
Qaeda can continue to thrive.

But the nature of the enemy is now quite different. It is not a movement
capable of winning over the Arab street. Its political appeal does not make
rulers tremble. The video messages of bin Laden and Zawahiri once unsettled
moderate regimes. Now they are mostly dismissed as almost comical attempts
to find popular causes to latch onto. (After the financial crash, bin Laden
tried his hand at bashing greedy bankers.)

This is not an argument to relax our efforts to hunt down militants. Al
Qaeda remains a group of relentless, ruthless killers who are trying to
recruit other fanatics to carry out hideous attacks that would do terrible
damage to civilized society. But the group's aura is gone, its political
influence limited. Its few remaining fighters are spread thinly throughout
the world and face hostile environments almost everywhere.

America is no longer engaged in a civilizational struggle throughout the
Muslim world, but a military and intelligence campaign in a set of discrete
places. Now, that latter struggle might well require politics, diplomacy,
and development assistance—in the manner that good foreign policy always
does (Petraeus calls this a "whole-of-government strategy"). We have allies;
we need to support them. But the target is only a handful of extremist
organizations that have found a small group of fanatics to carry out their
plans. To put it another way, even if the United States pursues a broad and
successful effort at nation building in Afghanistan and Yemen, does anyone
really think that will deter the next Nigerian misfit—or fanatic from
Detroit—from getting on a plane with chemicals in his underwear? Such people
cannot be won over. They cannot be reasoned with; they can only be captured
or killed.

The enemy is not vast; the swamp is being drained. Al Qaeda has already lost
in the realm of ideology. What remains is the battle to defeat it in the
nooks, crannies, and crevices of the real world.

Find this article at http://www.newsweek.com/id/233607

© 2010


[Non-text portions of this message have been removed]

------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

[daarut-tauhiid] Bila Hati Bercahaya

Link ke posting ini
Reaksi: 
Bila Hati Bercahaya
Sumber: Aa Gym


=============


Adakah di antara
kita yang merasa mencapai sukses hidup karena telah berhasil meraih
segalanya: harta, gelar, pangkat, jabatan, dan kedudukan yang telah
menggenggam seluruh isi dunia ini? Marilah kita kaji ulang, seberapa
besar sebenarnya nilai dari apa apa yang telah kita raih selama ini.


Di
sebuah harian pernah diberitakan tentang penemuan baru berupa teropong
yang diberi nama telescope Hubble. Dengan teropong ini, berhasil
ditemukan sebanyak lima
milyar gugusan galaksi. Padahal yang telah kita ketahui selama ini
adalah suatu gugusan bernama galaksi bimasakti, yang di dalamnya
terdapat planet-planet yang membuat takjub siapa pun yang mencoba
bersungguh-sungguh mempelajarinya. Matahari saja merupakan salah satu
planet yang sangat kecil, yang berada dalam gugusan galaksi di dalam
tata surya kita. Nah, apalagi planet bumi ini sendiri yang besarnya
hanya satu noktah. Sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lima milyar gugusan
galaksi tersebut. Sungguh alangkah dahsyatnya.


Sayangnya,
seringkali orang yang merasa telah berhasil meraih segala apa pun yang
dirindukannya di bumi ini—dan dengan demikian merasa telah sukses—suka
tergelincir hanya mempergauli dunianya saja. Akibatnya, keberadaannya
membuat ia bangga dan pongah, tetapi ketiadaannya serta merta membuat
lahir batinnya sengsara dan tersiksa. Manakala berhasil mencapai apa
yang diinginkannya, ia merasa semua itu hasil usaha dan kerja kerasnya
semata. Sedangkan ketika gagal
mendapatkannya, ia pun serta merta merasa diri sial. Bahkan tidak jarang kesialannya itu ditimpakan atau
dicarikan kambing hitamnya pada orang lain.


Orang
semacam ini tentu telah lupa bahwa apa pun yang diinginkannya dan
diusahakan oleh manusia sangat tergantung pada izin Allah Azza wa
Jalla. Mati-matian ia berjuang mengejar apa-apa yang dinginkannya,
pasti tak akan dapat dicapai tanpa izin-Nya. Laa haula walaa quwwata
illaabillaah! Begitulah kalau orang hanya bergaul dengan dunia
yang ternyata tidak ada apa-apanya ini.


Padahal,
seharusnya kita bergaul hanya dengan Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha
Menguasai jagat raya, sehingga hati kita tidak akan pernah galau oleh
dunia yang kecil mungil ini. Laa
khaufun alaihim walaa hum yahjanuun!
Sama sekali tidak ada kecemasan dalam menghadapi urusan apa pun di
dunia ini. Semuanya tidak lain karena hati selalu sibuk dengan Dia, Zat
Pemilik Alam Semesta yang begitu hebat dan dahsyat.

Sikap inilah sesungguhnya yang harus senantiasa
kita latih dalam mempergauli kehidupan di dunia ini. Tubuh
lekat dengan dunia, tetapi jangan biarkan hati turut lekat dengannya.
Ada dan tiadanya segala perkara dunia ini di sisi kita jangan
sekali-kali membuat hati goyah karena toh sama pahalanya di
sisi Allah. Sekali hati ini lekat dengan dunia, maka adanya akan
membuat bangga, sedangkan tiadanya akan membuat kita terluka. Ini
berarti kita akan sengsara karenanya, karena ada dan tiada itu akan
terus menerus terjadi.


Betapa tidak! Tabiat dunia itu senantisa
dipergilirkan. Datang, tertahan, diambil. Mudah, susah.
Sehat, sakit. Dipuji, dicaci. Dihormati, direndahkan. Semuanya terjadi
silih berganti. Nah, kalau hati kita hanya akrab dengan
kejadian-kejadian seperti itu tanpa akrab dengan Zat pemilik
kejadiannya, maka letihlah hidup kita.


Lain
halnya kalau hati kita selalu bersama Allah. Perubahan apa saja dalam
episode kehidupan dunia tidak akan ada satu pun yang merugikan kita.
Artinya, memang kita harus terus menerus meningkatkan mutu pengenalan
kita kepada Allah Azza wa Jalla.


Di
antara yang penting utnuk diperhatikan sekiranya ingin dicintai Allah
adalah kita harus zuhud terhadap dunia ini. Rasulullah saw pernah
bersabda, "Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, niscaya Allah
mencintainya, dan barangsiapa yang zuhud terhadap apa yang ada di
tangan manusia, niscaya manusia mencintainya."


Zuhud
terhadap dunia bukan berarti tidak mempunyai hal-hal yang bersifat
duniawi, melainkan kita lebih yakin dengan apa yang ada di sisi Allah
daripada apa yang ada di tangan kita. Bagi orang-orang yang zuhud
terhadap dunia, sebanyak apa pun yang dimiliki sama sekali tidak akan
membuat hati merasa tenteram karena ketenteraman itu hanyalah apa-apa
yang ada di sisi Allah.


Rasulullah SAW bersabda, "Melakukan
zuhud dalam kehidupan di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal
dan bukan pula memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu
ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada
apa yang ada pada Allah." (HR Ahmad, Mauqufan)


Andaikata
kita merasa lebih tenteram dengan sejumlah tabungan di bank, maka
berarti kita belum zuhud. Seberapa besar pun uang tabungan kita,
seharusnya kita lebih merasa tenteram dengan jaminan Allah. Ini
dikarenakan apa pun yang kita miliki belum tentu menjadi rezeki kalau
tidak ada izin Allah.


Sekiranya
kita memiliki orangtua atau sahabat yang memiliki kedudukan tertentu,
hendaknya kita tidak sampai merasa tenteram dengan jaminan mereka atau
siapa pun. Karena, semua itu tidak akan
datang kepada kita, kecuali dengan izin Allah.


Orang
yang zuhud terhadap dunia melihat apa pun yang dimilikinya tidak
menjadi jaminan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah karena walaupun
tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi
Dia Maha Tahu akan segala
kebutuhan kita. Jangan ukur kemuliaan seseorang dengan adanya dunia
digenggamannya. Sebaliknya jangan pula meremehkan seseorang karena ia
tidak memiliki apa-apa. Kalau kita tidak menghormati seseorang karena
ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita menghormati seseorang karena
kedudukan dan kekayaannya. Kalau meremehkan seseorang karena ia papa
dan jelata, maka ini berarti kita sudah mulai cinta dunia. Akibatnya
akan susah hati ini bercahaya di sisi Allah.


Mengapa
demikian? Karena, hati kita akan dihinggapi sifat sombong dan takabur
dengan selalu mudah membeda-bedakan teman atau seseorang yang datang
kepada kita. Padahal siapa tahu Allah mendatangkan seseorang yang
sederhana itu sebagai isyarat bahwa Dia akan menurunkan pertolongan-Nya
kepada kita.


Hendaknya
dari sekarang mulai diubah sistem kalkulasi kita atas
keuntungan-keuntungan. Ketika hendak membeli suatu barang dan kita tahu
harga barang tersebut di supermarket lebih murah ketimbang membelinya
pada seorang ibu tua yang berjualan dengan bakul sederhananya, sehingga
kita merasa perlu untuk menawarnya dengan harga serendah mungkin, maka
mulailah merasa beruntung jika kita menguntungkan ibu tua berimbang
kita mendapatkan untung darinya. Artinya, pilihan membeli tentu akan
lebih baik jatuh padanya dan dengan harga yang ditawarkannya daripada
membelinya ke supermarket.
Walhasil, keuntungan bagi kita justru ketika
kita bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.


Lain
halnya dengan keuntungan diuniawi. Keuntungan semacam ini baru terasa
ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain. Sedangkan arti keuntungan
bagi kita adalah ketika bisa memberi lebih daripada yang diberikan oleh
orang lain. Jelas, akan sangat lain nilai
kepuasan batinnya juga.


Bagi
orang-orang yang cinta dunia, tampak sekali bahwa keuntungan bagi
dirinya adalah ketika ia dihormati, disegani, dipuji, dan dimuliakan. Akan
tetapi, bagi orang-orang yang sangat merindukan kedudukan di sisi
Allah, justru kelezatan menikmati keuntungan itu ketika berhasil dengan
ikhlas menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain. Cukup
ini saja! Perkara berterima kasih atau tidak, itu samasekali bukan
urusan kita. Dapatnya kita menghargai, memuliakan, dan menolong orang
lain pun sudah merupakan keberuntungan yang sangat luar biasa.


Sungguh
sangat lain bagi ahli dunia, yang segalanya serba kalkulasi, balas
membalas, serta ada imbalan atau tidak ada imbalan. Karenanya, tidak
usah heran kalau para ahli dunia itu akan banyak letih karena
hari-harinya selalu penuh dengan tuntutan dan penghargaan, pujian, dan
lain sebagainya, dari orang lain. Terkadang untuk mendapatkan semua itu
ia merekayasa perkataan, penampilan, dan banyak hal demi untuk meraih
penghargaan.


Bagi
ahli zuhud tidaklah demikian. Yang penting kita buat tatanan kehidupan
ini seproporsional mungkin, dengan menghargai, memuliakan, dan membantu
orang lain tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Inilah
keuntungan-keuntungan bagi ahli-ahli zuhud. Lebih merasa aman dan
menyukai apa-apa yang terbaik di sisi Allah daripada apa yang
didapatkan dari selain Dia.


Walhasil,
siapa pun yang merindukan hatinya bercahaya karena senantiasa dicahayai
oleh nuur dari sisi Allah, hendaknya ia berjuang sekuat-kuatnya untuk
mengubah diri, mengubah sikap hidup, menjadi orang yang tidak cinta
dunia, sehingga jadilah ia ahli zuhud.


"Adakalanya
nuur Illahi itu turun kepadamu," tulis Syaikh Ibnu Atho'illah dalam
kitabnya, Al Hikam, "tetapi ternyata hatimu penuh dengan keduniaan,
sehingga kembalilah nuur itu ke tempatnya semula. Oleh sebab itu,
kosongkanlah hatimu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Allah
akan memenuhinya dengan ma'rifat dan rahasia-rahasia."

Subhanallaah,
sungguh akan merasakan hakikat kelezatan hidup di dunia ini, yang
sangat luar biasa, siapa pun yang hatinya telah dipenuhi dengan cahaya
dari sisi Allah Azza wa Jalla. "Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing
(seorang hamba) kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki ..." (QS
An-Nuur [24]: 35)


====sumber:cyberMQ.com
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]


[Non-text portions of this message have been removed]

------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/